Luka Bangsa dalam Nyanyian Fajar


Crew Rekamfilms, 05 August 2021

LUKA sejarah yang belum terungkap dan tuntas, selamanya membawa kepedihan dan tanya. Ini pula yang muncul ketika film dokumen­ter Nyanyian Akar Rumput tayang di beberapa bioskop komersial mulai Kamis (16/1). 

Still Image film Nyanyian Akar Rumput

 

Film yang meraih Piala Citra 2018 kategori film dokumenter panjang terbaik ini sebelumnya hanya tayang di bioskop komunitas dan festival, termasuk festival bergengsi Busan International Film Festival 2018. 

Berbeda dari film fiksi Istirahatlah Kata-Kata garapan Yosep Anggi Noen (2016) yang menyajikan sekelumit kehidupan aktivis HAM Wiji Thukul, film Nyanyian Akar Rumput menyajikan narasi kehidupan orang-orang terdekat sang penyair. Demi menyajikan dinamika kehidupan mereka dengan cukup lengkap, sutradara Yuda Kurniawan menghabiskan waktu penggarapan film hingga empat tahun. 

Fajar Merah, anak kedua Thukul, menjadi tokoh sentral dalam film ini. Yuda membingkai Fajar dalam berbagai kesehariannya, termasuk aksi panggung Fajar bersama band-nya, Merah Bercerita. Sementara, Sipon, istri Thukul, dan anak sulungnya, Fitri Nganthi Wani, ditempatkan sebagai sosok yang melengkapi dunia Fajar. 

Bila Anggi menyoroti perjalanan Thukul dalam menjalankan kegiatan aktivis maupun selama persembunyian, Yuda menyajikan narasi dengan bingkai dokumenter lewat sosok anak yang berusaha mencari tahu siapa sesungguhnya sang ayah. 

Fajar Merah yang saat menghi­langnya Thukul, belum berusia lima tahun dan tidak memiliki ingatan tentang ayahnya. Ia merangkai sosok Thukul dari karya-karyanya, dan dari cerita orang-orang terdekat. 

Kerinduan dan cinta akan sosok sang ayah tidak hanya menghiasi relungnya, tapi juga memenga­ruhi keseharian dan pilihannya berkarya kini. Sama seperti ibu dan kakaknya, Fajar pun terus berharap akan penuntasan kasus Thukul. 

Dalam film itu diceritakan pula jatuh bangun keluarga ini dalam memelihara harapan. Penantian dan kekecewaan, termasuk kepada penguasa, silih berganti. 

Seperti saat Sipon sangat mendukung Joko Widodo saat Pilpres 2014. Ia punya sentimen positif terhadap Jokowi yang kini menjabat periode kedua pemerintahan karena pernah datang ke pernikahan anaknya, Fitri, saat masih menjabat sebagai Wali Kota Solo. 

Sipon mengungkapkan bahwa Jokowi akan membantu terhadap penyelesaian kasus-kasus orang hilang. Nyatanya, penantian Sipon belum usai hingga kini. 

Dokumenter musik 

Rekaman-rekaman kegiatan aktivis Thukul juga dihadirkan di film ini meski tidak dalam porsi besar. Ada pula beberapa rekaman, keseharian Thukul bersama Fajar dan Fitri Nganthi Wani semasa kecil, atau saat keluarga Thukul mewakili penyerahan penghargaan Yap Thiam Hien pada 2002.

Nyanyian Akar Rumput, selain berfungsi sebagai dokumenter yang memberi ruang untuk orang-orang yang ada di sekitar korban penghilangan paksa, juga menjadi film dokumenter musik. Secara eksplisit, perjalanan musik Fajar Merah bersama band-nya, Merah Bercerita, punya porsi yang cukup dominan di film. 

Ini menjadi cara Yuda untuk menyampaikan narasi Wiji Thukul yang tumbuh dan dirawat hingga saat ini oleh nyanyian-nyanyian anaknya. Yuda menyorot perjalanan musik Merah Bercerita melalui panggung-panggung, juga dapur rekaman. Bila boleh dikatakan, intensinya ialah lebih kepada sudut pandang Fajar dan keluarga Thukul. 

Di sisi lain, secara teknis Yuda belum menawarkan sesuatu yang lebih ‘radikal’ pada dokumenter. Misalnya, pada framing kamera. Beberapa wawancara ia lakukan dengan pola teknis yang masih menempatkan subjek berada pada keadaan sadar kehadiran kamera. Pola ini dilakukan saat ia menyuguhkan gambar ketika Fajar, Fitri, dan para anggota band Merah Bercerita berbicara. Akan lebih menarik, misalnya, justru ketika Yuda menempatkan kamera seperti saat ia menghadirkan Sipon. 

Kelemahan juga terasa pada adegan ketika Merah Bercerita manggung di salah satu pasar di Solo, lalu berpindah ke Kemang, Jakarta Selatan. Plot itu akan lebih menarik apabila ia juga meneruskan perpindahan gambar ke beberapa tempat lainnya, bukan di dua tempat itu saja. Hal itu juga akan menjadi montase dengan pesan lebih tebal. 

Oase dokumenter

Kehadiran Nyanyian Akar Rumput yang tayang di jaringan bioskop komersial juga penanda penting untuk keragaman genre film saat ini. Dalam catatan buku Pemandang­an Umum Industri Film Indonesia (2019), yang diinsiasi filmindonesia.or.id dan Bekraf, tiga tahun ke belakang genre dokumenter tidak lebih dari 5%. 

Konten yang berisi mengenai isu hak asasi manusia juga menjadi hal penting dalam lingkup industri film kita. Bahkan, pada 2018, dokumenter mengalami kekosongan. Pada 2017, seksi dokumenter hanya mencapai 2%, meningkat 1% dari 2016. Pada 2017, ada Banda the Dark Forgotten Trail yang disutradarai Jay Subiakto, dan Negeri Dongeng (Anggi Frisca). 

Dalam catatan, beberapa film dokumenter yang tayang di jaringan bioskop ialah Student in Movement in Indonesia (2002) karya Tino Saroenggalo, lalu sekuelnya pada 2013, berjudul Setelah 15 Tahun. Andy Bachtiar Yusuf yang menggarap Love for Sale, juga pernah menggarap dua dokumenter yang tayang di jaringan bioskop, yaitu The Jak (2007) dan The Conductors (2008). Saat ini pemutaran Nyanyian Akar Rumput hanya di beberapa bioskop Cinema XXI, CGV, dan Cinepolis. Di Jakarta, pemutarannya berlangsung di Cinema XXI Plaza Senayan. (M-1).

Artikel ini telah dimuat di Mediaindonesia.com dengan judul "Luka Bangsa dalam Nyanyian Fajar" Klik untuk baca

Penulis: Fathurrozak

 

 

Berita Lainnya