About Us


REKAM FILMS (PT. Rekam Sinema Indonesia) adalah sebuah perusahaan film yang berbasis di Depok, Jawa Barat, didirikan oleh Yuda Kurniawan sejak 2015. Misi kami adalah membangun ekosistem perfilman tanah air yang mengedepankan kemandirian berkreasi dan profesionalisme bisnis. Kami berkomitmen memproduksi karya dengan beragam isu dan genre yang mengangkat lokalitas, otentisitas, serta realitas sosial Indonesia namun tetap relate dan relevan secara universal. Karya-karya yang kami ciptakan tidak hanya untuk hiburan, tetapi juga untuk memantik diskusi dan menghasilkan ide-ide baru untuk perubahan dan kemajuan bersama.

Film-film yang kami produksi telah diputar di bioskop dan festival film diberbagai negara. Salah satu yang cukup fenomenal adalah film dokumenter “Nyanyian Akar Rumput” yang telah meraih beberapa penghargaan, salah satunya adalah Piala Citra untuk film dokumenter panjang terbaik pada Festival Film Indonesia 2018. Film tersebut juga telah diputar dilebih 30 festival film, salah satu yang paling bergengsi adalah Asia Pacific Screen Award 2019 yang diadakan di Brisbane, Australia.

Tahun 2022 Rekam Films merilis “Roda-Roda Nada” yang meraih nominasi film dokumenter panjang terbaik FFI 2022, serta beberapa penghargaan lainnya serta sebuah dokumenter berjudul “KH. Ahmad Dahlan, Sang Pembaharu” yang diputar perdana pada Muktamar Muhammadiyah ke 48 di Surakarta. Tahun 2024 Rekam Films merilis sebuah film cerita panjang berjudul “Harmoni” yang berhasil meraih Best Film Award dalam My Name Is Climate Film Festival, England 2025. Tahun 2025 Rekam Films merilis dua film cerita panjang berjudul “Menuju Pelaminan” dan “Judheg”.

 

VALUE STATEMENT

• The Cultural Mirror - "Menangkap Jiwa, Menyuarakan Nyata." 

Film bagi kami adalah artefak budaya (Karya fisik, cara hidup & pola pikir). Kami berdedikasi untuk memotret wajah asli Indonesia. Dengan riset mendalam dan kepekaan, "Kami mengubah realitas sehari-hari menjadi narasi sinematik yang tidak hanya menghibur, tapi juga menjadi cermin bagi masyarakat kita." 

 

• The Soulful Approach - "Lokalitas yang Bicara, Realitas yang Bermakna." 

Kami tidak sekadar membuat film, kami merekam denyut nadi kehidupan. Di tengah industri yang penuh polesan, kami memilih jalan untuk mengangkat cerita-cerita otentik dari sudut lokal yang sering terlupakan— "Kami percaya cerita yang paling jujur adalah cerita yang paling menggetarkan hati dan dekat dengan kita."

 

• The Raw & Relevant  - "Jujur dalam Berkarya, Otentik dalam Bercerita." 

Kami tidak menciptakan drama buatan; kami menemukannya di ruang keluarga, di lorong-lorong pasar, di wajah lelah kaum urban, dan di kearifan desa yang sunyi. Kami percaya bahwa "The more local, the more global"—semakin spesifik dan otentik sebuah cerita digarap, semakin universal rasa yang disampaikannya. Kami menghadirkan karya yang relevan, dapat dirasakan dan dapat dipercaya. Menciptakan memori kolektif untuk masa depan.

OUR TEAM

Foto Yuda Kurniawan

Yuda Kurniawan (Founder, Producer and Director)

Yuda Kurniawan lahir di Manggarai, NTT, 8 Oktober 1982. Meski lahir di Manggarai namun ia besar di Banyuwangi, Jawa Timur, Kampung halaman ibunya. Yuda lulus tahun 2006 dari Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia adalah produser dan sutradara film peraih Piala Citra, Festival Film Indonesia. Ia juga pendiri PT. Rekam Sinema Indonesia (Rekam Films) sebuah perusahaan film yang berbasis di Depok, Jawa Barat. Ia telah berkecimpung di Industri TV dan Film sejak 2007 mulai dari menjadi Editor, Videografer, Assisten Sutradara hingga Sutradara. Ia sangat tertarik pada isu sosial, politik, budaya dan lingkungan. Film-filmnya selalu mengedepankan otentisitas, lokalitas dan realitas sosial.  

Film-film yang ia produksi bersama Rekam Films telah diputar di festival film diberbagai negara dan telah meraih beberapa penghargaan, salah satunya NETPAC Award (Network for the promotion of Asia Pasific Cinema) sebuah penghargaan yang diberikan kepada Sutradara Asia yang menunjukkan kontribusi penting bagi gerakan sinema Asia baru.

Beberapa karya Filmnya antara lain: "Jalan Dakwah Pesantren" (2016), "Balada Bala Sinema" (2017) nominasi film dokumenter panjang terbaik FFI 2017, "Nyanyian Akar Rumput" (2018) Pemenang Piala Citra FFI 2018 untuk film dokumenter panjang terbaik, “Roda-Roda Nada” (2022) nominasi film dokumenter panjang terbaik FFI 2022. Film tersebut juga meraih Best Editing, Indonesian Screen Awards, Jogja NETPAC Asian Film Festival 2022. Piala Maya 2022 untuk film dokumenter panjang terpilih dan Gary L. Hayes Award, Bali International Film Festival 2023. “Harmoni” (2024) diputar perdana di 30th Kolkata International Film Festival 2024 dan berhasil meraih Best Film Award dalam My Name is Climate Film Festival 2025. 16 Oktober yang lalu Yuda merilis film cerita panjang terbarunya yang berjudul “Menuju Pelaminan” di Bioskop seluruh Indonesia.

Ikuti :
Foto Misya Latief

Misya Latief (Co-Founder and Finance Director)

Misya Latief lahir di Purbalingga. Ia mengawali Passionnya di dunia film sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Bersama rekan-rekannya, Ia berhasil menelurkan film pendek berjudul “Baju Buat Kakek” (2009). Sebuah film yang mengawali debutnya sebagai penulis skenario dan Sutradara. Film ini berhasil memenangkan sejumlah penghargaan untuk kategori pelajar di Festival Film tingkat Nasional, seperti: Film terbaik dan sutradara terbaik Festival Film Remaja 2009, Film terbaik dan sutradara terbaik Festival Film Anak 2009 dan Nominasi film terbaik Festival Film Perempuan Internasional 2010, dan banyak lagi lainnya.   

Masa SMA, ia berhasil melahirkan beberapa film pendek, salah satunya adalah “Lawuh Boled” (2013) film ini banyak memenangkan sejumlah penghargaan di ajang kompetisi festival film di tingkat nasional, seperti film fiksi terbaik Festival Film Malang 2013, Film fiksi terbaik Festival Film Solo 2013, film fiksi terbaik Festival Film Purbalingga 2013, film terbaik South to South Film Festival 2014, Serta meraih Sutradara Muda berbakat Iqbal Rais Award Piala Maya 2013 dan masih banyak lagi lainnya. Karya-karya filmnya lalu mengantarkannya memperoleh beasiswa penuh di Akademi Televisi Indonesia Jakarta (Sekarang IMDE, Institut Media Digital EMTEK) lulus tahun 2017. 

Tahun 2016 dengan karya film dokumenternya “Senja di Tanah Jawa” ia berhasil menjadi semifinalis Eagle Award Documentary Competition MetroTV. Misya beberapa waktu yang lalu juga merilis Novel pertamanya yang berjudul “Gadis Gunung”, novel tersebut mendapatkan penghargaan “Book of The Year 2020” oleh Inspira Pustaka. Di tahun 2025, Misya merilis film cerita panjang pertamanya yang berjudul “Judheg” yang diputar perdana di Jogja NETPAC Asian Film Festival dan menjadi nominee dalam Indonesian Screen Award.

Selain berperan sebagai produser dan sutradara, Misya juga menjabat sebagai direktur keuangan, memainkan peran yang sangat penting dalam mengelola keuangan perusahaan dan mengawasi keuangan untuk produksi film, serial, dan dokumenter.

Ikuti :
Foto Micky Inderajao

Micky Inderajao (Business Development)

Micky Inderajao lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan gelar Sarjana Teknik Geodesi pada tahun 1986. Dengan latar belakang kecintaan dan minat yang mendalam terhadap teknologi, dari tahun 1983 hingga 1998 ia banyak bekerja di bidang teknologi informasi (IT) dan Telekomunikasi. 

Kecintaannya yang kuat dan minat yang besar dalam fotografi dan film membawanya ke industri film, di mana ia kemudian bekerja di Perusahaan Film Indika Entertainment dari tahun 1999 hingga 2005 sebagai Manajer Pasca-Produksi. Perannya meliputi pengelolaan alur kerja penyuntingan, tim pasca- produksi, dan kualitas konten secara keseluruhan.

Dari tahun 2009 hingga 2014, ia memproduksi beberapa film dokumenter, termasuk proyek inisiatif perubahan iklim yang diinisiasi oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim Indonesia (DNPI) yang didukung oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan fokus pada sektor agribisnis. 

Proyek-proyek kolaboratif internasional yang ia kerjakan memperkuat pemahamanannya tentang isu lingkungan, perubahan iklim, pemetaan berbasis drone, dan kredit karbon. Secara keseluruhan, karirnya mencerminkan kombinasi yang kuat antara kreativitas visual, produksi film, dan komitmen terhadap narasi isu sosial dan lingkungan.

Ikuti :
Foto Indi Gerdiana

Indi Gerdiana (Marketing Director)

Indi Gerdiana memulai karir profesionalnya di industri kreatif sebagai produser di sebuah rumah produksi yang berspesialisasi dalam periklanan. Ia kemudian memperluas pengalamannya dengan berpindah ke sebuah agency periklanan, memperdalam pemahaman tentang brand communication strategies dan creative project management.

Sejak 2009, Indi bekerja sebagai account management, menangani strategi komunikasi yang mencakup branding, pemasaran, pengembangan ide kreatif, dan eksekusi kreatif. Ia telah bekerja dengan beberapa agensi besar di Indonesia, termasuk Grey Indonesia, MullenLowe Indonesia, dan yang terbaru Romp – Accenture Song Brand Indonesia. Pengalamannya mencakup pengelolaan klien dari berbagai industri seperti otomotif, rokok, perbankan, FMCG, dan F&B, yang membutuhkan ketelitian, koordinasi antar tim, dan pemahaman mendalam tentang audiens target. 

Minatnya saat ini di industri film menandai perkembangan baru dalam perjalanan profesionalnya. Melalui produksi film, Indi berharap dapat berkontribusi secara aktif dalam menciptakan film berkualitas tinggi yang mengangkat isu-isu menarik, relevan, dan berdampak bagi masyarakat.

 

Ikuti :
Foto Alvi Apriayandi

Alvi Apriayandi (Research & Creative Development)

Alvi Apriayandi memiliki latar belakang sebagai jurnalis dan produser film profesional dengan lebih dari dua dekade pengalaman di industri media nasional dan internasional. Kariernya dimulai pada tahun 2004 sebagai videografer, dan sejak 2007 ia aktif dalam produksi dokumenter televisi. Dari tahun 2007 hingga 2011, ia menjabat sebagai Videografer News Magazine di Metro TV, sebelum bergabung dengan Kompas TV sebagai Producer News Gathering dari tahun 2011 hingga Juli 2025. Selama periode ini, ia menangani liputan berita strategis, program dokumenter, dan tugas khusus baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Alvi memiliki pengalaman peliputan internasional, termasuk meliput Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (2009), tugas di Australia (2010), Amerika Serikat (2013), dan Piala Dunia di Rusia (2018). Karyanya telah meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk di ajang bergengsi Aljazeera International Documentary Film Festival (2013), Penghargaan ILO (2012), dan Penghargaan Adiwarta (2012), serta menjadi finalis Penghargaan Adinegoro (2010 dan 2011).

Selain sebagai jurnalis, dari tahun 2018 hingga 2025, ia aktif memproduksi konten komersial berupa iklan televisi (TVC) dan video promosi (DVC). Tidak hanya itu, Alvi juga memproduksi film dokumenter “25 tahun NTRL” dan beberapa film dokumenter lainnya, termasuk profil perusahaan dan profil pemerintah daerah. Dengan sertifikasi SSI Master Scuba Diver dan Underwater Photography & Videography, Alvi juga spesialis dalam liputan bawah air, termasuk tugas untuk Lion Air JT610 (2018) dan Sriwijaya Air SJ182 (2021). Ia lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ikuti :