REKAM FILMS (PT. Rekam Sinema Indonesia) adalah sebuah perusahaan film yang berbasis di Depok, Jawa Barat, didirikan oleh Yuda Kurniawan sejak 2016. Misi kami adalah memproduksi film dengan berbagai isu dan genre yang mampu mencermikan nilai-nilai Indonesia yang juga relevan secara universal. Ikut membangun ekosistem perfilman tanah air yang tidak hanya mengedepankan bisnis namun juga kemandirian berkreasi, mengangkat lokalitas dan otentisitas. Selalu berusaha melahirkan karya film yang bukan hanya sebagai media hiburan namun juga mampu memantik dialog, diskusi dan gagasan-gagasan baru demi perubahan dan kemajuan bersama.
Film-film yang kami produksi telah diputar di bioskop dan festival film diberbagai negara. Salah satu yang cukup fenomenal adalah film dokumenter “Nyanyian Akar Rumput” yang telah meraih beberapa penghargaan, salah satunya adalah Piala Citra untuk film dokumenter panjang terbaik Festival Film Indonesia 2018. Film tersebut juga telah diputar dilebih 30 festival film, salah satu yang paling bergengsi adalah Asia Pacific Screen Award 2019 yang diadakan di Brisbane, Australia. Tahun 2022 Rekam Films merilis “Roda-Roda Nada” yang meraih nominasi film dokumenter panjang terbaik FFI 2022, serta beberapa penghargaan lainnya serta sebuah dokumenter berjudul “KH. Ahmad Dahlan, Sang Pembaharu” yang diputar perdana pada Muktamar Muhammadiyah ke 48 di Surakarta. Tahun 2024 Rekam Films merilis sebuah film cerita panjang berjudul “Harmoni” yang berhasil meraih Best Film Award dalam My Name Is Climate Film Festival, England 2025. Tahun 2025 ini Rekam Films merilis dua film cerita panjang berjudul “Menuju Pelaminan” dan “Judheg”.

Yuda Kurniawan lahir di Manggarai, NTT pada 8 Oktober 1982. Ia adalah produser dan sutradara film peraih Piala Citra, Festival Film Indonesia. Film-film yang ia produksi bersama Rekam Films telah diputar diberbagai festival film baik di dalam dan luar negeri dan telah meraih beberapa penghargaan, salah satunya NETPAC Award (Network for the promotion of Asia Pasific Cinema) sebuah penghargaan yang diberikan kepada Sutradara Asia yang menunjukkan kontribusi penting bagi gerakan sinema Asia baru. Yuda sangat tertarik pada isu sosial, politik, budaya dan lingkungan. Film-filmnya selalu mengedepankan lokalitas, otentisitas dan kearifan lokal.
Beberapa karya Filmnya antara lain: “Masih Ada Asa” (2015), "Jalan Dakwah Pesantren" (2016), "Balada Bala Sinema" (2017) Nominasi Film Dokumenter Panjang Terbaik FFI 2017 dan "Nyanyian Akar Rumput" (2018) Pemenang Piala Citra FFI 2018 Untuk kategori film dokumenter panjang terbaik, “Roda-Roda Nada” (2022) Nominasi film dokumenter panjang terbaik FFI 2022. “Harmoni” (2024) adalah debut penyutradaraan dia untuk film panjang naratif. Tahun 2025 yang lalu Yuda merilis film cerita panjang terbarunya berjudul "Menuju Pelaminan".

Misya Latief lahir di Purbalingga pada 15 November 1992. Ia mengawali Passionnya di dunia film sejak masih duduk di bangku kelas 1 SMP. Bersama rekan-rekannya, Ia berhasil menelurkan film pendek berjudul “Baju Buat Kakek” (2009). Sebuah film yang mengawali debutnya sebagai penulis skenario dan Sutradara. Film ini berhasil memenangkan sejumlah penghargaan untuk kategori pelajar di Festival Film tingkat Nasional. Masa SMA, ia berhasil melahirkan beberapa film pendek, salah satunya adalah “Lawuh Boled” (2013) film ini banyak memenangkan sejumlah penghargaan di ajang kompetisi festival film di tingkat nasional. Karya-karya film pendeknya mengantarkannya memperoleh beasiswa penuh di Akademi Televisi Indonesia, Jakarta pada tahun 2014. Misya latief beberapa waktu yang lalu telah merilis Novel pertamanya yang berjudul “Gadis Gunung”. Tahun 2025 Misya merilis film cerita panjang pertamanya yang berjudul “Judheg” yang diputar perdana di Jogja NETPAC Asian Film Festival dan menjadi nominee dalam Indonesian Screen Award.